Rethinking Orientasi Ber-IMM
Apa yang saya dengar, apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan di IMM adalah pendidikan hidup yang mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain.
MADRASAHDIGITAL.CO – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau yang sering kita sebut IMM adalah organisasi gerakan mahasiswa Islam, sekaligus organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.
Mungkin untuk sebagian orang yang ingin masuk IMM dan belum pernah mengenalnya kebanyakan mereka ber-IMM alasannya mencari relasi, link, pengalaman, wawasan, bahkan sekadar untuk mengisi daftar CV. Namun, menurut saya, jika ingin mencari relasi, di pasar pun lebih banyak relasi. Jika ingin mencari pengalaman, jadi volunteer juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman. Jika ingin mencari ilmu, di kampus juga mendapatkan ilmu. Jika hanya untuk mengisi CV, masih banyak hal yang bisa dilakukan tanpa masuk IMM.
Orientasi ber-IMM
Lalu, masuk IMM apa yang dicari? Alasan terkuat saya adalah untuk pendidikan. Saya adalah alumni santriwati di salah satu pondok ternama. Hidup saya di atur 24 jam dari bangun tidur sampai tidur lagi. Di sana saya terjaga dari maksiat dunia. Dan ketika saya lulus tidak ada lagi yang membentengi diri saya dan hanya saya yang bisa mengatur diri sendiri. Suka-suka hati saya ingin berbuat apa. Ada ketakutan dalam diri saya, bagaimana jika saya nantinya lupa diri? Bagaimana jika akal dan hati saya kalah oleh nafsu? Apalagi, saat ini saya hidup di Jakarta, kota yang sangat keras dan rentan dengan pergaulan-pergaulan negatif. Karena lingkungan di mana kita berada memengaruhi jadi apa nantinya kita lima tahun mendatang.
Dengan saya ber-IMM saya terbentengi dari hal-hal duniawi yg membuat saya khilaf, semua perbuatan itu bergantung niatnya, dan niat saya masuk IMM adalah untuk pendidikan. Apa yang saya dengar, apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan di IMM adalah pendidikan hidup yang mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Karena setiap organisasi mempunyai ideologi dan sistemnya sendiri dalam mengatur suatu organisasi tersebut.
Di IMM, saya belajar bagaimana berproses, sesuatu hal tidak dilihat dari hasilnya, tapi dilihat dari prosesnya. Karena saya percaya proses tidak akan mengkhianati hasil. Belajar berkorban, tapi tidak untuk menjadi korban. Belajar sebagai manusia yang bermanfaat, tapi tidak untuk dimanfaatkan.
Nafas Trilogi Ikatan
IMM mempunyai Trilogi, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Dalam trilogi IMM yang bergerak di bidang keagamaan menuntut kita untuk selalu menyiarkan dakwah amar makruf nahi munkar, dengan memperbaiki diri sendiri kemudian berdakwah kepada orang lain, dan juga bergerak dalam bidang kemahasiswaan yang menuntut kita mempunyai intelektualitas dan wawasan yang luas, agar tidak mudah dibodohi oleh orang lain dan mempunyai kualitas diri yang baik.
Lalu, selanjutnya bergerak dalam kemasyarakatan yang menuntut kita untuk peka terhadap lingkungan sekitar, bagaimana humanitas kita dipertanyakan, bagaimana kita sebagai manusia memanusiakan yang lain sebagai manusia seutuhnya, bagaimana jiwa sosial kita di uji untuk selalu bergerak dan terus bergerak. Awal–awal memang sulit, tapi paksakan diri ini untuk terus bergerak, percayalah seiring berjalannya waktu akan menjadi terbiasa.
Jadi, yuk tanyakan kepada diri kita sendiri, apa orientasi kita ber-IMM? Apa yang kita cari? Jangan sampai kita salah niat dan menghasilkan kesia-siaan. Innamal a’malu bii niat, karena segala sesuatu bergantung dari niatnya.


Komentar
Posting Komentar