Zoonosis dan Kerusakan Hutan
Jika satwa liar yang hidup di hutan bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata “ hai manusia pintar nan cerdas, mengapa kau salahkan kami atas virus yang melanda saat ini padahal sumber daya alam tempat kami tinggal kau keruk habis – habisan, teman – teman kami kau buru tanpa ampun, habitat kami pun kau jadikan lahan pembangunan. “
Sudah satu tahun lebih lamanya kita hidup berdampingan dengan penyakit menular covid 19, bukan hanya indonesia saja bahkan dunia pun sedang bahu membahu memikirkan bagaimana caranya pandemi ini berakhir.
Tidak adanya sebab tanpa musabab, latar belakang virus corona ini diawali dengan penyakit radang paru-paru atau pneumonia, kasus ini berkaitan dengan pasar hewan di Wuhan,Cina, yang banyak menjual daging binatang, termasuk yang tidak lazim untuk di konsumsi seperti ular, kelelawar, dan tikus.
Kita bisa sebut penyakit penularan dari hewan ke manusia ini sebagai zoonosis. Jadi, faktor primer terjadinya virus corana akibat zoonosis. Zoonosis adalah penyakit-penyakit dan infeksi yang secara alami dapat di tularkan dari hewan-hewan vertebrata kepada manusia ataupun sebaliknya.
Jangan serta merta karena kita mengetahui virus corona di sebabkan oleh hewan maka menyalahkan sepenuhnya kepada hewan, sebenarnya dalang dari pandemi ini adalah kita, manusia. Karena manusialah yang memulai untuk mengonsumsi hewan yang jelas-jelas tidak diperkenankan untuk dimakan.
Penularan penyakit zoonosis bukan hanya disebabkan karna mengkonsumsinya, dengan kita berinteraksi dengan hewan liar itu juga bisa jadi penyebab utama penularan zoonosis.
Kerusakan Hutan Indonesia
Menilai kondisi Indonesia saat ini sebenarnya ada hubungannya antara zoonosis dengan kerusakan hutan. Yang kita tahu setiap tahun nya selalu ada deforestasi atau kegiatan penebangan hutan secara permanen akibat dari pembakaran hutan, begitu banyak eksploitasi ekstratif di buka, mulai dari hutan aceh, kalimantan, dan jawa hampir 90% hutannya hilang.
Semakin ke sini interaksi hutan dan manusia semakin intens karna adanya pembukaan lahan, aktivitas penebangan dan perburuan. Karena interaksi itulah yang menyebabkan zoonosis meningkat. Dari satwa liar lalu menularkan orang yang ada di hutan kemudian dari satu individu menyebarkan virus ke yang lainnya.
Belum lagi bagi pencinta satwa liar yang mengambil hewan dari hutan lalu di pelihara menjadi hewan peliharaan rumah serta ada beberapa yang di konsumsi sebagai santapan nikmat atau sebagai obat. Inilah penyebab zoonosis makin tidak terkendali dan puncaknya mungkin pada pandemi covid saat ini. sebelum ada virus corona kita pun sempat di gemparkan dengan penyakit sars, ebola, dan lainnya, tetapi tidak separah sekarang.
Penyakit zoonosis bisa saja menimbulkan gejala ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, tidak sedikit pula yang dapat menimbulkan gejala serius dan berpotensi menyebabkan kematian.
Transfer mikroba yang menyebabkan penyakit ini menjadi masalah besar, karna zoonosis makin meningkat. Kita tidak bisa menyalahkan satwa liar yang ada di hutan sebagai satu-satunya penyebab penyebaran penyakit di dunia ini, karena secara alami satwa liar itu rumahnya adalah di hutan. Kitalah sebagai manusia yang malah mencari penyakit ke hutan, karena semakin meningkatnya intensitas interaksi antara manusia dan satwa liar di hutan maka meningkat pula penyakit zoonosis karena virusnya transmit dari hewan ke manusia.
Jangan sampai satwa liar yang sudah ada habitatnya akhirnya didekatkan dengan manusia malah menjadi ajang tukar penyakit. Lalu jika kita bergeser untuk melihat polemik antara manusia dan hewan, sebenarnya konflik ini tidak akan berakhir kecuali salah satunya ada yang punah baik itu manusianya ataupun hewannya.
Ekosistem dan Habitat
Pada 2019, masyarakat Indonesia dihebohkan mengenai masuknya ular cobra di pemukiman warga. Sebenarnya ini sudah terjadi tiap tahun sedari tahun 2009, tetapi meledaknya populasi cobra di permukiman warga, baru itu terjadi saking banyaknya ular cobra yang menampakkan dirinya, karena tempat habitatnya sudah tidak ada lagi.
Banyak yang mengeluh bahwa ular-ular masuk ke dalam rumah. Permasalahannya bukan ular yang masuk ke dalam rumah tetapi bisa jadi manusia yang masuk ke rumah mereka, rumah ularlah yang kita rusak, dijadikan lahan dan pembangunan. Pembangunan itu baik, tapi di indonesia ini kurang perhatian terhadap tempat di mana hewan liar itu hidup. Ekosistem mereka dihabisi tanpa tersisa.
Saat ini kita sedang menuai hasil dari perbuatan kita sendiri. Karna manusia tidak aware terhadap permasalahan hutan. Manusia habis-habisan mengeruk semua yang ada di hutan, dikonversi jadi lahan industri.
Penyebab ular masuk ke pemukiman warga selain ular sudah tidak punya lahan tempat tinggal, populasi mereka meningkat karna terputusnya rangkai makanan. Pemakan telur ular adalah biawak, nah predator alami pemakan telur ular ini seringkali di buru karena banyak orang yang mecari biawak untuk dikonsumsi menjadi obat. Karena sudah jarangnya pemakan telur ular, maka populasi ular pun semakin bertambah.
Dan jika kita menyoroti kepada penyebab punah nya satwa liar, kini pecinta satwa liar, sudah semakin banyak apalagi sekarang komunitas pecinta satwa liar sudah berada di mana-mana, seperti pecinta burung hantu, elang, burung pemangsa, dan sebagainya.
Apakah yang menjadi penyebab punahnya satwa liar? Apakah hobi para pencinta satwa yang merawat ataukah si tukang potong yang menjadi faktor utamanya, karena di Indonesia tidak ada filter yang baik apakah satwa liar bisa menjadi hewan yang dikonsumsi atau hewan peliharaan.
Pepatah pernah mengatakan, cinta tak harus memiliki. Maka para pencinta hewan liar seyogianya paham bahwa untuk mencintai tidak harus mengkandangkan si hewan di pekarangan rumah, kalau memang itu menjadi polemik virus apa pun itu mungkin bisa menjadi faktor utama.
Komentar
Posting Komentar